How to parent 101
Adikku nangis, dia kesal karena ibu terdengar tak henti-hentinya menyela adikku menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Yang di suruh manasin motor lah, yang di suruh bawa ini lah, yang benerin itu lah, sampai di suruh makan pun terdengar mengesalkan baginya. Namun aku percaya, ibu juga pasti tak ada niatan untuk menghalangi anaknya menyelesaikan urusan.
Adikku terisak, Bapakku yang sedang rebahan main facebook merasa terganggu dan menyuruh adikku berhenti menangis. Aku bilang, "Ada orang nangis kok dimarahin?". "Emangnya itu tadi bapak marah-marah?", jawab bapak. "Ya maksudnya kenapa ga dengan kelembutan saja", aku menjelaskan. Lalu ia mengubah nada bicaranya lebih lunak dan terdengar lebih mengenakkan. Bertanya pada adikku ada apa gerangan yang semestinya seperti itulah sikap orang tua kepada anak.
Sedangkan ibuku kesal juga sebenarnya, ia sedang menikmati hasil lelahnya setelah masak untuk kami semua. Bapakku masih tenang tak bergeming dari posisinya sambil terus menggeser-geser postingan orang-orang di facebook. Aku melirik handphonenya sekaligus jengah tak habis pikir. "Memangnya video-video itu lebih penting dari perasaan Ama?". Aku bertanya dengan nada bicara yang biasa saja agar tidak menyakiti hatinya. Seketika bapakku terhenyak sembari tersenyum, beranjak dari posisi nyamannya, mengabaikan handphonenya lalu menyambangi adikku. Sukurlah, bapakku masih menerima peryataan keberatan semacam itu.
Aku di ruang tengah mendengarkan obrolan bapakku dengan adikku di kamar.
"Kenapa Ma?". Bapak bertanya dengan nada suara orang tua kepada anak yang sepatutnya. Aku tak begitu mendengar Ama berkata apa, karena dia bicara sambil menangis. Lalu bapakku menasihati dengan pembenaran dan hak-hak excuse dia sebagai orang tua yang meminta pengertian anaknya karena perlakuan yang tidak menyenangkan demi kebaikkan anak. Dan sudahlah, cukup tahu saja.
Lalu ibukku yang kesehariannya tak lekang dari marah-marah dan ngomel selayaknya ibu-ibu, tak tertahankan lagi dan melontarkan perkataan, ia sedang playing victim kalau ia tak lagi akan menyuruh-nyuruh adikku macam-macam. Chaos. ibukku bilang, "iya ibu yang salah, kebanyakan nyuruh kamu, ga akan lagi ibu nyuruh-nyuruh kamu". sungguh menyakitkan. "Iyaa, ibu minta maaf", dengan ketus ibu meminta maaf. "Padahal ibu melakukan itu juga demi kenyamanan dirimu, ibu minta manasin motor tiap hari itu biar kamu nanti ga susah kalau mau kuliah lagi". Memang motor butut itu perlu perhatian lebih. Bapakku yang ikutan sakit telinga bilang, "Yaudah, ibu kalau sudah minta maaf tidak usah lagi meneruskan omelannya". Kesalnya ibu menuruti perkataan bapakku.
Adikku masih terisak sambil menahan agar tak terdengar seperti raungan orang kesakitan. Aku paham betul, seandainya ibu juga menghampiri Ama dengan kelembutan tiap kali hatinya terluka, seperti yang selalu ibu lakukan untuk Pika. Mungkin timbunan perasaan perlakuan tak adil ini tak akan pernah menjadi akar dari ketegangan diantara kami yang berlagak seolah rumah tangga ini baik-baik saja.
.
Comments
Post a Comment
Nice to meet you, leave a comment.